Rabu, 09 Juni 2010

PALOPO-KOTANYA SAWERIGADING

Hari ini aku berada di kota Sawerigading dalam rangka melaksanakan tugas rutin. Dua tahun berlalu sejak terakhir aku berkunjung ke kota ini. Perubahan terasa dimana-mana. Makin banyak Hotel, Penginapan, dan bangunan Ruko baru makin banyak. Ini pertanda kemajuan ekonomi yang menjanjikan.
Mengapa? Karena bangunan-bangunan itu menandakan makin banyak orang yang berkunjung ke kota Palopo dan melakukan transaksi usaha. Ini berarti perputaran uang di kota ini cukup besar. Hampir semua cabang perbankan nasional dan swasta ada disini.
Satu hal yang sangat menonjol jika kita berkunjung ke Palopo adalah kebersihan. Ya…kebersihan. Tak ada sampah kita jumpai di sudut-sudut jalan. Bersih dan hijau. Pantas saja tahun ini meraih Piala Adipura. 
Ketika aku berada di suatu daerah, maka yang pertama kucari adalah kuliner khas daerah tersebut. Palopo terkenal dengan masakan Kapurung. Makanan terbuat dari sagu dicampur dengan sayuran, ikan, ayam, atau udang. Enak dimakan pada saat hangat. Apalagi disertai perasan jeruk nipis, kecap dan sambal khasnya. Maknyos deh.
Ada beberapa kuliner khas lainnya, seperti Barobo, Parade dan Dange. Barobo terbuat dari Jagung dicampur ayam atau ikan suir.Sedangkan Dange semcam roti dari sagu. Semuanya sangat menggugah selera.
Sedangkan untuk buah-buah, yang paling terkenal adalah buah Durian. Durian Palopo jenis Lompo Tele merupakan yang favorit. Karena daging yang tebal dan buah kecil. Kelezatan dan keharumannya khas sekali. Jika ingin membawanya sebagai buah tangan sebaiknya beli yang bentuk dampo durian, karena baunya tidak menyengat. Dampo merupakan olahan daging durian yang diawetkan secara tradisional.


Mungkihkah aku akan ditugaskan lagi ke kota ini? Semoga.

Jumat, 04 Juni 2010

PEMIMPIN ADALAH PENGAYOM RAKYAT

Suatu kelompok masyarakat membutuhkan pemimpin agar bisa mencapai tujuan persatuan mereka, dan ini bersifat alamiah. Demikian pula dengan Negara yang merupakan kumpulan dari berbagai kelompok masyarakat, juga membutuhkan seorang pemimimpin untuk mencapai tujuan mereka bersatu.
Pemimimpin merupakan orang pilihan yang dianggap mampu mengayomi, memberi rasa aman, menjaga segala sesuatunya berjalan sesuai jalurnya, dan sebagainya. Masyarakat yang memilih seorang pemimpin menaruh harapan besar terhadap sosok yang dipilihnya.
Kebijakan yang dikeluarkan oleh pemimpin merupakan aturan untuk menjaga dan mengayomi rakyatnya. Kesejahteraan mayarakat sangat tergantung kearifan dari pemimpinnya. Kearifan merupakan salah satu alasan mengapa mereka memilih seorang pemimpin.
Lalu jika pemerintah mengeluarkan aturan yang memberatkan rakyatnya? Dimanakah letak kearifan pimpinan tersebut. Di koran kemarin saya membaca bahwa pemkot sementara mengkaji penerapan jalur berbayar di jalan-jalan tertentu untuk mengatasi kemacetan. Katanya peraturan ini sudah berhasil diterapkan di Negara Singapore, dan juga akan diterapkn di ibukota Negara Jakarta.Dengan alasan tersebut pemkot berencana menerapkannya di Makassar.
Singapore dan Makassar jika disandingkan untuk perbandingan fasilitas infrastruktur dan sarana transportasi missal, tidak bisa dibandingkan. Ibarat membandingkan enaknya buah Durian dengan buah Mangga. Dua kondisi dengan parameter yang berbeda dan tidak bisa diperbandingkan. Menggunakan ilmu statistic, matematika, fisika, kimia atau ilmu apapun, jika akan membandingkan suatu obyek yang sama harus memiliki parameter yang sebanding untuk diukur. Yang membedakan hanya perlakuaannya.
Sebelum menerapkan peraturan yang telah berhasil diterapkan di Singapore, Pemkot punya tugas untuk membuat parameter Makassar sebanding dengan parameter Singapore. Infrasturtur di sediakan semaksimal mungkin. Jalanan dibuat selebar dan sebanyak di Singapore. Transportasi massal dengan armada yang memadai, nyaman dan terjangkau oleh masyarakat. Jika kesemuanya telah disiapkan barulah Pemkot bisa menerapkan kebijakan tersebut.

Jika kita melihat keadaan infrastruktur transportasi di Makassar saat ini, apakah kita berani mengatakan bahwa Pemkot telah melaksanakan tugasnya?  Belum ada penambahan jalan yang signifikan untuk mengatasi kepadatan kendaraan diruas-ruas jalan tertentu. Pelebaran badan jalan juga hanya pada jalan Negara, bukan jalanan Pemkot. Kondisi jalan rusak masih banyak kita temui di setiap pojok kotak. Bagaimana kita membandingkannya dengan Singapore?
Dari segi moda transport massal sangat minim. Angkot / Pete Pete  masih mendominasi sebagai angkutan massal. Bus massih bisa dihitung dengan jari. Sedangkan di Singapore angkutan massal banyak ragamnya.  Bus jumlahnya berlimpah dan jadwalnya tepat. Kereta api/ subway, angkutan jarak pendek, dan lainnya.  Lalu kita ingin menerapkan aturan yang berlaku di Negara Singapore, sementara pemkot sendiri belum menyelesaikan kewajibannya kepada masyarakat. Berupa penyediaan angkutan missal yang memadai, nyaman dan terjangkau.
Pemkot malah ingin membuat peraturan yang memberatkan masyarakat. Dengan memungut pembayaran di ruas jalan tertentu, yang merupakan jalur padat akan menambah beban masyarakat. Belum lagi jika penghentian subsidi BBM bagi kendaraan roda dua dihapuskan. Makin lengkaplah penderitaan masyarakat.
Kepadatan lalu lintas di beberapa ruas jalan Kota Makassar harus kita telaah secara seksama. Kepadatan terjadi hanya pada jam-jam tertentu. Pertumbuhan jumlah kendaraan memang salah satu factor penyebabnya. Lebar jalan yang tidak memadai dan tidak adanya jalur alternative juga merupakan factor penyebab kemacetan. Sehingga perlu dilakukan rekayasa lalu lintas.
Jika kita telah mengetahui penyebabnya lalu kenapa bukan itu dahulu yang kita tuntaskan. Daripada kita mengadopsi suatu aturan dari Negara lain. Pemimpin adalah pengayom bagi masyarakat. Masyarakat menunggu kearifan pemimpinnya untuk mengayomi mereka. Memberikan rasa aman, tentram dan sejahtera.
Wahai pemimpin, jabatanmu merupakan amanah. Engkau dipilih oleh masyarakat karena mereka melihat bahwa kamu layak untuk memimpin mereka. Kelak dikmudian hari engkau akan dimintai pertangung jawaban atas amanah tersebut. 

TAKA BONERATE (BONERATE ATOL)



I Remember when cild age, my grandfather told me story about Bonerate atol or Taka Bonerate. “you can see dolphin and whale plyground around you, the Manta/Pari Manta fly from the sea to sky. If you look down you see many coloured fish and coral. Beautifuly, Like paradise garden, but not at land.” Say my grandfather.







Saat kecil, kakeku sering becerita tentang keindahan Taka Bonerate. "Lumba-lumba dan ikan paus sering nampak bermain di areal taka. Terkadang kita dapat menyaksikan ikan Pari Manta meloncat keluar dari air. Jika kita melihat ke bawah air, nampak beragam jenis ikan dan terumbu karang yang berwarna warni. Seperti Taman surga, tetapi tidak terletak di daratan." cerita kakek.




Keep Saved your treasure in Bonerate Atol. 
Jagalah warisan kekayaan alam di Taka Bonerate


Rabu, 02 Juni 2010

WHY WE CANT SMILE






After you see all photo, you have reason cant smile?

Selasa, 01 Juni 2010

Letter from little Girl

Ibuku sayang
Sekarang saya telah disurga bu….saya sangat berharap bisa menjadi gadis kecilmu. Tetapi saya bingung dengan apa yang telah terjadi. Aku menikmati keberadaanku di rahimmu. Walaupun gelap, tentu saja karena saya ada didalam rahimmu, ibu. Saya melihat bagaimana aku mendapatkan jari tangan dan kaki. Begitu senangnya berada di rahimmu, belum siap aku untuk meninggalkan duniaku ini. Kuhabiskan waktuku dengan berfikir dan tidur. Sejak awal kehadiranku, kurasakan ikatan batin yang begitu kuat denganmu, ibu.
Terkadang aku mendengar ibu menangis dan aku juga ikut menangis. Terkadang engkau membentak dan menjerit. Lalu kudengar Ayah balas membentak. Hatiku sangat  sedih, sehingga kuberharap ibu akan lebih baik keesokan harinya.  Aku begitu khawatir ketika engkau sering menangis. Suatu hari engkau menangis sepanjang hari. Apakah aku menyakitimu, bu? Sungguh! Tak bisa kubayangkan apa yang membuatmu begitu sedih.
Pada hari itu juga, sesuatu yang mengerikan terjadi. Seekor monster mendatangi tempatku yang hangat dan nyaman. Aku sangat takut, bu. Aku menjerit sekuat tenaga. Memanggilmu, bu. Tetapi ibu tak menolongku. Mungkin ibu tak pernah mendengarku. Monster itu makin mendekat, aku menjerit, “ ibu..Ibu, toloooong”. Teror itu begitu menakutkan dan menyakitkan. Aku terus menjerit meminta pertolonganmu, bu…hingga aku tak dapat berbuat apa-apa lagi. Monster itu menarik tanganku. Sakit sekali, bu.Sakit yang tak terperikan. Ia mencabik lenganku. Dan monster itu belum berhenti menyerangku. Ia kemudian mencabik kakiku. Kulihat tangan dan kakiku terpisah.
Aku merasakan kesakitan yang sangat, saya sekarat bu. Aku akan mati. Kusadari itu. Padahal aku belum sempat melihat mukamu, atau mendengar dari mulutmu betapa engkau mencintaiku. Keinginanku untuk menghapus air mata diwajahmu belum terwujud. Aku mempunyai banyak rencana untuk membahagaikanmu. Sekarang semua impian dan anganku musnah ditelan oleh rasa sakit dari terror yang kualami. Aku bisa merasakan terror itu telah menghentikan detik jantungku. Padahal keinginanku untuk menjadi putrimu sangat besar. Semua itu sirna oleh terror yang mengerikan. Dalam keadaan sekarat ini, aku tak bisa membayangkan apa yang dilakukan monster itu padamu. Ingin kuucapkan betapa aku mencintaimu sebelum ajal menjemputku, tapi aku tak tahu menggunakan bahasa apa yang bisa ibu mengerti.
Tak lama kemudian aku menghembuskan nafas terakhirku. Aku mati, bu. Kurasakan rohku meninggalkan jasadku, aku dijemput oleh malaikat ketempat yang luas dan sangat indah. Aku masih menangis, tapi rasa sakit telah hilang. Malaikat mengatarku ketempat yang sangat indah. Itu yang menghentikan tangisanku. Kutanya malaikat”monster apa yang menyerangku dan membunuhku?” Malaikat menjawab “Aborsi”. Saya tidak tahu bagaimana rupa monster abrosi itu. Surat ini kutulis karena aku sangat mencintaimu, bu. Betapa inginnya saya menjadi gadis kecilmu. Saya telah berusaha keras untuk bertahan hidup. Saya ingin hidup. Tetapi monster itu begitu kuat. Ia merengut tanganku. Lalu merengut kakiku. Kemudian tubuhku. Aku tercabik-cabik. Tak mungkin aku bertahan dengan tubuh yang tercabik. Aku telah berusaha, bu. Melawannya. Tapi tak mampu. Aku sangat ingin hidup bersamamu, bu. Berhati-hatilah bu terhadap monster Aborsi. Ia sangat kejam. Aku sangat mencintaimu, bu. Dan tak ingin ibu mengalami terror dari monster aborsi seperti yang kualami. Waspadalah bu. Ia masih ada di luar sana. Tak tahu siapa lagi yang diincarnya. Jaga dirimu, bu.
Salam Sayang

Bayi perempuanmu 

Law of the Garbage Truck

One day I hopped in a taxi and we took off for the airport.

Never count yourself out

Blind high school runner and teammates collaborate with such ease that the extraordinary becomes ordinary
On a cloudless spring afternoon on the crowded Glenwood South track, Tommy C. placed his hand on the back of Shin T.'s elbow. He didn't let go until they had finished the first stretch of a 2 1/2-mile lung-burning training run, matching strides as they moved, connected, around the track.

Most afternoons, Tommy and his teammates form these rare duets in the individual sport of distance running, Tommy occasionally serving as a motivator, his teammates always serving as the eyes Tommy lost by age 2.

The 17-year-old junior and his teenage teammates collaborate on his running career with such ease that their teamwork, extraordinary as it is, becomes ordinary. Just like Tommy.

"The best thing about Tommy is he doesn't act like (he's blind)," Glenwood South assistant track coach Chris H. said. "He just does what everybody else does."

And maybe a little more.

Bilateral retinoblastoma, a rare cancer of the eyes, claimed Tommy's first eye when he was 13 months old. Shortly after his second birthday, he lost his other eye.

As Tommy recovered from his surgeries and was fitted with prosthetic eyes, his parents read everything they could and contacted various organizations for help, said his mother, Kristi Tommy. She then started going to park district classes with her son, who was willing to try everything.

"The big goal was to make him independent. He's going to live as an adult?he just won't be able to see," Kristi T. said. "Whenever he tries something new, there's an element of danger. We're cautious, but he's gotten to where he is today because we've allowed him to do whatever activity he wants to."

Tommy C. tells the following story with a palpable pride for how his parents raised him.

He was about 5 years old and standing at the base of an escalator at a mall with his mother, who was trying to verbally guide him on to the moving stairs. Afraid and unable to find the railing, Tommy threw a tantrum, attracting several onlookers who were appalled that his mother wouldn't physically help him.

"My parents are probably my harshest critics, but in a good way," Tommy said. "That's the story of how everything goes. They make me do it. There are no excuses. It increases resourcefulness."

Tommy figured out the escalator, just as he figured out each activity on his ever-growing list of accomplishments. He has played the recorder, the piano and the guitar. He plays the drums in a band that has a steady lineup of gigs in the north suburbs and played at the Elbo Room in Chicago this winter.

Interested in the music industry and broadcast journalism, he had his own radio show at Glenwood South and will attend a five-week journalism program at Northwestern this summer. He has a 4.6 GPA on a 4.0 scale and takes AP courses.

He has skied, done karate, completed triathlons, wrestled for Glenwood South and he became such an impressive skateboarder that he attracted the attention of legend Tony Hawk.

In 2008, Hawk found Tommy through an online video and flew to Chicago to skate with and interview him for a video. Afterward, Hawk wrote about Tommy in his journal

"The kid goes for it and is not afraid to fall. I was most impressed with his backside revert technique," Hawk wrote. "As a ramp skater, backside reverts are one of the last things to learn because you are blind to the ramp when coming down. But then I realized that he's always blind to the ramp. It doesn't make it any less dangerous though, and I am amazed at his tenacity and easygoing approach to life."

The American Printing House for the Blind counts more than 58,000 legally blind students registered in the United States, the majority of which attend mainstream schools. More than 60 percent of those students do not participate in their physical education classes because they are not adapted, according toMark Lucas, executive director of the United States Association of Blind Athletes.

The organization did not have participation rates of blind athletes in mainstream high school sports, but based on the physical education statistics, Lucas said the numbers are likely very low.

After completing three triathlons when he was younger, Tommy took up cross-country and track in sixth grade.

In training, his teammates volunteer to be his guide, and Tommy is happy to run with whoever is up for the task. As Tommy holds his teammates' elbows, they guide him along training and race courses, verbalizing the distances, obstacles and terrain, which is more difficult to navigate in cross-country.

"The main things we have to look out for are curbs because they trip him up, rocks and tree branches," said Dilan W., a junior who ran a 1,600 interval with Tommy at a recent practice. "Sometimes we push him, and other times he pushes us. It builds a team relationship because we have to work together. There are a lot of benefits from it."

Before races, the Glenwood South coaches inform meet officials because pacing by a noncompetitor and holding on to another runner are usually illegal. The coaches said they haven't had any problems with officials.

"When he first got here, we thought, ?Oh, how are we going to do this?'" Chris said. "What made it really great was his teammates are so willing to pitch in. They'll say, ?Hey, I'll take him for this run.' We never had to assign it to anyone."

Tommy has become fast enough that in races he uses multiple guide runners, usually teammates who already have run their events. The faster he becomes, the more he struggles balancing personal ambition with the needs of the teammates who help him.

"Sometimes it does get frustrating when it gets to a point where I'm faster than some people and not quite up to another group," he said. "I want to let people get their races in, but sometimes we have to find people who will sacrifice their races to help me. It's finding that balance between what's best for me and what's best for the team."

Running with Glenwood South's top four distance runners last week, Tommy chopped his 1,600 run time to 5 minutes, 10 seconds?a 16-second personal record?in a meet at Glenwood North. He runs in about the middle of South's pack and hopes to break 5 minutes by the time he graduates. In an outdoor meet this week at Niles North, he ran the 800 in 2:21.

The running pairings draw their share of attention at meets, including one unknowing runner who scolded Tommy and his racing partner for an unfair advantage, until they related that Tommy was blind. "And then we creamed him," Tommy said with a smile.

But for every uninformed comment, there are supporters letting Tommy know their admiration, including Chris's 11-year-old son, who usually asks about Tommy's races before inquiring about Glenwood South's defending state champion sprinter.

"I definitely appreciate it. To motivate people is great," said Tommy, who also won a gold medal in the 1,500 and a silver medal in the 800 in his class at the IBSA (International Blind Sports Federation) World Youth and Student Championships last summer in Colorado Springs.

"There are a lot of people that aren't motivated these days. Everybody should try anything they have the opportunity to try. You should never count yourself out. If I can inspire people to go out and try new things and not be down on themselves, then I think I'm really successful."
What are some of the things in your life that you have written off as impossible? Or as being too hard? As Tommy has shown us, these obstacles are only as large as we make them. Share this story with someone you think might need some inspiration in overcoming obstacles.

Get Up

Bringing a giraffe into the world is a tall order. A baby giraffe falls 10 feet from its mother's womb and usually lands on its back. Within seconds it rolls over and tucks its legs under its body. From this position it considers the world for the first time and shakes off the last vestiges of the birthing fluid from its eyes and ears. Then the mother giraffe rudely introduces its offspring to the reality of life.
In his book, "A View from the Zoo", Gary Richmond describes how a newborn giraffe learns its first lesson.
The mother giraffe lowers her head long enough to take a quick look. Then she positions herself directly over her calf. She waits for about a minute, and then she does the most unreasonable thing. She swings her long, pendulous leg outward and kicks her baby, so that it is sent sprawling head over heels.
When it doesn't get up, the violent process is repeated over and over again. The struggle to rise is momentous. As the baby calf grows tired, the mother kicks it again to stimulate its efforts. Finally, the calf stands for the first time on its wobbly legs.
Then the mother giraffe does the most remarkable thing. She kicks it off its feet again. Why? She wants it to remember how it got up. In the wild, baby giraffes must be able to get up as quickly as possible to stay with the herd, where there is safety. Lions, hyenas, leopards, and wild hunting dogs all enjoy young giraffes, and they'd get it too, if the mother didn't teach her calf to get up quickly and get with it.
The late Irving Stone understood this. He spent a lifetime studying greatness, writing novelized biographies of such men as Michelangelo, Vincent van Gogh, Sigmund Freud, and Charles Darwin.
Stone was once asked if he had found a thread that runs through the lives of all these exceptional people. He said, "I write about people who sometime in their life have a vision or dream of something that should be accomplished and they go to work.
"They are beaten over the head, knocked down, vilified, and for years they get nowhere. But every time they're knocked down they stand up. You cannot destroy these people. And at the end of their lives they've accomplished some modest part of what they set out to do."
- Craig B. Larson

Eye Opener for all parents


PARA ORANG TUA, BUKALAH MATAMU

Seorang guru SMA memberi tugas kepada muridnya untuk menulis esay berupa permintaan kepada Tuhan tentang kehidupan yang mereka inginkan.

Setiba di rumah ia memeriksa seluruh esay murid-muridnya. Tulisan seorang muridnya sangat menarik perhatiaannya dan mengharukan.

Suaminya yang sedang berjalan ke ruang makan melihat istrinya yang guru tersebut sedang menangis, “Ada apa sayang?”

“Baca ini! Tulisan seorang muridku ..” sambil menyodorkan esay tersebut ke suaminya.

“Tuhanku, malam ini aku ingin mengajukan satu permintaan khusus kepadaMu. Kabulkanlah. Masukkanlah aku ke dalam Televisi. Aku ingin menjadi seperti telivisi di rumahku. Aku ingin Mengantikannya.”

“Aku akan mendapat tempat yang special, seluruh keluarga ada di sekitarku. Mereka akan memperhatikan aku dengan serius jika aku berbicara..”

Aku ingin menjadi pusat perhatian dan didengarkan tanpa intrupsi ataupun pertanyaan. Aku ingin dirawat seperti mereka merawat televisi pada saaat tidak bisa berfungsi”

Ayah akan menemaniku saat ia pulang kerja, walaupun ia merasa letih.

Aku juga ingin ibu membutuhkanku ketika ia sedang sedih atau menangis. Menganggapku ada dan menjadi tempat curhatnya.

Kuingin saudaraku bermain bersamaku…kuingin keluargaku berada disekitarku, memperhatikanku, melupakan segala hal yang lain dan lebih banyak menghabiskan waktu denganku. Sehingga aku dapat menghibur mereka dan mengembirikan semuannya.

Tuhan aku tidak meminta banyak hal…Aku hanya ingin hidupku seperti TV”. Pada moment itu sang suami berkata “YA TUHAN!!! ANAK YANG MALANG, SIAPA ORANG TUANYA?”
Sang istri sambil mengusap air matanya, memandang suaminya dan berkata “ ESAI ITU DARI ANAK KITA!”

Senin, 31 Mei 2010

NEGERI INI MEMANG LUCU

Jangan salahkan lantai/papan berjingkat jika engkau tak pandai menari. Ungkapan itu tepat untuk mengambarkan rangkaian kebijakan yang diambil pemerintah di era kabinet bersatu jilid II. Banyaknya kebijakan yang tidak populis dengan mengatasnamakan untuk kepentingan rakyat. Tapi rakyat yang mana? Yang bermobil? Tinggal di rumah/apartemen mewah? Ataukah mereka yang setiap hari harus bermain petak umpet dengan petugas pajak?
Seruan agar mengurangi konsumsi beras karena kebutuhan beras dapat menimbulkan inflasi. Kelihatannya seruan yang baik. Tapi merubah pola kebiasaan makan makanan berasal dari beras bukanlah hal mudah. Apalagi yang mengeluarkan seruan itu tidak mempraktekkannya dalam kesehariannya. Jadi bagaimana dia mengetahui hal itu dapat dilaksanakan.
Seorang pemimpin yang baik, sebelum menerapkan suatu peraturan bagi rakyat yang dipimpinnya terlebih dahulu dia menerapkan di lingkungan keluarga dan lingkungan kerjanya. Sehingga peraturan yang dikeluarkan betul-betul telah teruji dan dapat dilaksanakan.
Kembali ke seruan mengurangi konsumsi beras untuk menekan laju inflasi dan ketergantungan pada beras. Marilah kita bercermin ke Negara-negara tetangga. Khususnya Negara Asean. Dahulu Vietnam mengirim petaninya untuk belajar ke Indonesia mengenai swasembada  beras. Saat ini kita yang membeli beras dari Vietnam. Malaysia, Thailand, Brunei, dan Kamboja sekarang mampu mencukupi kebutuhan beras dalam negrinya. Padahal kita mempunyai luas Negara yang lebih besar, sumber daya manusia lebih besar, mengapa kita malah mendatangkan beras dari luar.
Kita mempunyai banyak sarjana dan ahli pertanian. Kemampuan mereka diakui oleh dunia. Tapi mengapa produksi beras kita tidak maju-maju. Apa yang salah dalam system pengembangan pertanian kita?
Menyangkut kebijakan penghapusan BBM bersubsidi. Kebijakan ini akan menaikkan inflasi. Karena penghapusan BBM bersubsidi berarti kenaikan harga BBM, yang akan berdampak domino kepada kenaikan harga Sembilan bahan pokok, tarif angkutan, dan onderdil kendaraan bermotor. Sementara upah dan gaji tidak mengalami kenaikan. Daya beli masyarakat akan menurun. Berarti yang terjadi pemiskinan masyarakat. Sementara golongan kaya semakin kaya.
Apakah kebijakan ini diputuskan oleh mereka yang juga menggunakan kendaraan bermotor pribadi, khususnya sepeda motor. Jangan sampai keputusan ini disarankan oleh mereka yang tidak mengalami lansung, tapi hanya melihat pada angka dan simulasi computer. Sehingga ketika diterapkan tidak bisa terlaksana. Disebabkan parameter simulasi hanya perkiraan computer bukan keadaan rill dilapangan.
Mengapa pemerintah tidak focus meningkatkan taraf hidup masyarakat dahulu daripada mengambil langkah-langkah instan yang mengorbankan masyarakat golongan menegah ke bawah. Ataukah kita sudah didikte oleh suatu kekuatan yang menyebabkan pemerintah harus mengorbankan rakyatnya? 

Jumat, 28 Mei 2010

ALANGKAH LUCUNYA NEGERI INI

Jika anda pengemar film Indonesia, apalagi karya-karya dari Dedy Mizwar, maka judul diatas tidak asing lagi. Itu merupakan judul film terbaru Kang Dedy Mizwar. Ceritanya tentang sarjana yang kesulitan untuk mendapat pekerjaan. Kemudian bergabung dengan sekelompok pencopet, menjadi yang menangani keuangan. Kejelian melihat sisi lain dari kehidupan glamour kota dengan cerdas dan lucu di tampilkan dalam film ini. Tapi bukan synopsis film ini yang akan dibahas.
Judul ini saya pinjam melihat banyaknya keganjilan yang terjadi di negeri kita tercinta. Pemutar balikkan fakta, korupsi yang diresmikan, kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat kecil, penghamburan anggaran Negara, dan sejenisnya.
Tadi pagi, sewaktu menonton berita di telivisi, saya cukup kaget dengan kebijakan pemerintah yang akan mencabut subsidi BBM bagi kendaraan roda dua, dengan alasan jumlah pemakai kendaraan roda dua yang cukup banyak. Sehingga banyak menggunakan BBM bersubsidi.
Alasan yang cukup menyesatkan. Kenapa? Alasan jumlah kendaraan roda dua yang cukup banyak bukan alasan yang tepat. Apakah pemerintah tidak melihat alasan mengapa pengguna Sepeda motor membengkak pesat? Ini disebabkan oleh tingginya harga BBM yang berdampak kepada mahalnya ongkos angkutan umum. Karena kenaikan BBM menyebabkan kenaikan harga onderdil kendaraan umum, dan meningkatkan jumlah setoran sopir ke pemilik angkutan umum.Tingginya ongkos angkutan umum, menyebabkan masyrakat berpendapatan menegah kebawah memilih sepeda motor sebagai alternatif transport. Sebab kenaikan BBM juga berdampak kepada kenaikan berbagai jenis barang dan jasa. Misalnya bahan pokok yang naik. Uang sekolah naik, dan sejenisnya.
Dengan memiliki sepeda motor sebagai alat transportasi keluarga. Masyarakat menegah ke bawah bisa berhemat, baik dari segi waktu maupun uang. Coba kita hitung. Jika seorang pegawai yang harus ketempat kerjanya dengan 2 (dua) kali menggunakan angkot, maka berapa biaya yang harus mereka sisihkan per bulannya. Belum lagi waktu yang mereka habiskan di atas angkot. Dengan menggunakan sepeda motor mereka cukup mengisi tangki sekitar 4 liter bensin, sudah bisa digunakan sekitar 2 atau 3 hari. Apakah alasan sederhana ini tidak ditelaah oleh para ahli yang memutuskan kebijakan itu? Ataukah para pemutus kebijakan tersebut adalah orang yang bergaji lumayan dan mendapat fasilitas mobil, sehingga tidak pernah merasakan kebutuhan masyarakat menegah ke bawah? Alangkah lucunya negeri ini.
Apakah keputusan ini bukan karena dorongan pengusaha? Jumlah kendaraan sepeda motor cukup besar merupakan pangsa pasar yang mengiurkan dari segi keuntungan penjualan BBM Non Subsidi. Ini akan menguntungkan semua pengusaha yang terlibat dalam rantai pemasaran BBM Non Subsidi.
Jika keputusan ini diberlakukan juga. Itu berarti masyarakat pengguna sepeda motor mensubsidi pengguna kendaraan roda empat. Atau dengan kata lain masyarakat golongan menegah ke bawah mensubsidi masyrakat kelas atas. Alangkah lucunya Negeri Ini.(wusensei.28.05.2010) 

Jumat, 21 Mei 2010

MAKASSAR TEMPO DOLOE

MAKASSAR TEMPO DOLOE
Pernakah anda membayangkan wajah kota Makassar Tempo Doloe? Tanpa gedung bertingkat, tak ada mal atau supermarket. Pepohonan hijau merimbuni kota. Kendaraan yang lalu lalang masih bisa dihitung dengan jari. Pernakah anda membayangkan hal itu?
Untuk melukiskannya dengan kata-kata rasanya kurang tepat. Jadi marilah kita melihat beberapa gambar Makassar Tempo Doloe.
 














Apakah masih ada diantara foto-foto tersebut yang anda kenali? Betul. Gambar diatas adalah gambar pelabuhan Paotere, KArebosi, Gedung Walikota dan suasana jalan di masa itu. Bandingkan dengan keadaan sekarang. WOW.. jauh berbeda.

PERJALANAN KE SELAYAR

Hari ini saya lagi mood untuk menulis tentang kampung halamanku, Kabupaten Kepulauan Selayar. Pada liburan sekolah di masa-masa SMP dan SMA biasanya kumanfaatkan dengan berlibur di kampung, Kota Benteng. Kota Benteng adalah ibukota Kabupaten Kepulauan Selayar.
Pada masa itu aku senang sekali naik motor untuk ke Selayar. Jarak dari Makassar ke Benteng, Selayar ± 240 km. Motor sehari sebelum keberangkatan telah diservis agar kondisinya prima. Oli dan ban menjadi perhatian utamaku. Perjalanan dimulai setelah shalat subuh, sekitar jam 4.30 WITA. Perjalanan dimulai menuju perbatasan Makassar dengan Gowa. Jalur ini di subuh hari sudah sangat padat. Pedagang sayur dari Kabupaten Gowa dengan sepeda dan sepeda motornya berbondong-bondong menuju pasar Pabaeng-baeng atau Pasar Terong di Kota Makassar. Pete-pete juga sudah mulai mencari penumpang. Petepete adalah istilah untuk angkutan umum di Sulawesi Selatan. Mungkin karena ditrayeknya tertulis Pasar Sentral – Sungguminasa PP, maka PP tersebut yang menjadi istilah Petepete. Mungkin.
Kugas motor Honda 8oo ku hingga kecepatan 60km/jam. Pada masa itu Honda 800 termasuk motor terkenal. Susana remang subuh dan kepadatan kendaraan memaksaku untuk tidak menaikkan kecepatan. Kepadatan mulai berkurang setelah mencapai daerah Limbung, Kabupaten Gowa. Mulai dari sini kecepatan sudah dinaikkan ke 80 km/jam. Jalanan sepi membuat bisa menikmati pemandangan dikiri dan kanan jalan. Hamparan sawah dengan padi yang menguning. Terkadang kita bisa melihat desa yang ada ditengah hamparan sawah. Bagaikan oase di padang pasir.
Setelah melewati Gowa, Gerbang perbatasan Kabupaten Takalar telah didepan mata. Didaerah ini terkenal dengan Pabrik Gula, Jagung rebus, dan ikan lautnya. Kemudian kita akan memasuki kabupaten Jeneponto. Suasana gersang lansung menerpa wajah. Memang daerah ini terkenal karena kegersangannya. Makanan terkenalnya adalah Coto Kuda. Yayasan HuMus (www.yayasan humus. Blogger.com)memiliki kebun bakau, kebun Jarak dan Kelompok binaan dibidang budidaya rumput laut di Kabupaten Jeneponto . Disepanjang jalan kita akan melihat empang penggaraman dan pedagang tuak manis. Sebagaian besar waktu perjalanan dihabiskan di Kabupaten ini.
Kabupaten berikutnya adalah Bantaeng, atau disebut Butta Toa (tanah tua/yang dituakan). Belanda dahulu membuat keresidenan didaerah ini, sehingga bangunan-bagunan tua dengan arsitektur eropa masih bisa kita jumpai didaerah ini. Daerah ini terkenal dengan hasil Holtikultura, dan hasil lautnya. Anda bisa memetik strawberi lansung dari pohonnya di perkebunan strawberi. Atau ingin merasakan sejuk dan segarnya air merasa, air yang lansung dari pegunungan. Jalanan di daerah ini cukup indah pemandangannya. Kita melalui beberapa kelokan jalan yang bersisian dengan tepi pantai. Debur ombak terkadang seakan menjangkau kaki kita.
Selepas itu kita akan memasuki Kota Bulukumba. Perahu Phinisi yang terkenal itu dibuat disini oleh tangan-tangan trampil orang bantaeng. Anda mungkin pernah mendengar Suku Kajang? Suku ini tinggal di Kabupaten Bulukumba. Kehidupan mereka mirip dengan suku badui di Jawa Barat. Tujuanku adalah pelabuhan feri Bira yang letaknya berdekatan dengan objek wisata Pantai Bira. Dari sini kita akan naik Kapal Feri kepelabuhan Pammatata di Selayar.
Jam 11.00 WITA aku tiba di pelabuhan ferri Bira. Kapal Ferri yang menuju Selayar telah merapat di dermaga dan Jam 14.00 akan berlayar. Pasir pantainya sangat indah. Disekitar dermaga banyak pedangang Gogos dan makanan serta minuman ringan. Perjalanan laut menyeberangi selat Selayar memakan waktu sekitar 2 jam. Bagi yang mabuk laut sebaiknya meminum obat anti mabuk. Tabiat ombak di selat ini sulit diprediksi. Bila musim pancaroba ombak bisa mencapai ketinggian 3 meter. Tetapi nahkoda yang biasa melalui daerah ini sudah berpengalaman dan bergaul akrab dengan alam. Kondisi ombak 3 meter bagi mereka bagai buaian.
Sekitar jam 16.00, kami merapat di pelabuhan Pammatata. Pemandangan dipelabuhan ini cukup indah. Hamparan pasir putih dipadu dengan tebing dan bukit. Ratusan pohon kelapa berderet rapat di tepian. Sebanding dengan pemandangan pasir putih di pantai Kuta, Bali. Keaslian masih terasa di tempat ini. Beberapa pemudik yang menggunakan motor berbarengan menuju kota benteng, ibukota kabupaten Selayar. Disanalah aku dilahirkan. Makanya menjadi tanah kelahiran. Seandainya aku lahir di Lampung, maka lampunglah tanah kelahiranku. Perjalanan ke kota Benteng memakan waktu sekitar 1,5 jam. Perjalanan di sore hari cukup menyejukkan mata. Membuat rasa penat hilang dari peredaran darah.
Perjalan ini memanjakan mata. Berkendaraan dibawah kanopi Pohon Kelapa, sementara disisi kanan terlihat mentari mulai mendekati peraduannya. Rumah-rumah penduduk dan huma dengan pagar dari batu menghias kedua sisi jalan. Kita menelusuri tepi pantai menuju kota benteng. Timbul ide di benakku untuk suatu saat membuat dokumentasi perjalanan ini. Lebih bagus lagi bila bisa berupa film dokumnter.  Seiiring dengan sunset di sebelah kananku, kami tiba di kota Benteng Selayar. Kusempatkan dulu ke Pantai kota untuk menyaksikan sunset. Setelah puas, kupacu si Honda 800 menuju rumah bibi di selatan kota. Bibi tidak menyangka aku akan dating berlibur. Kubayangkan wajah kedua sepupuku yang akan terkejut melihat kedatanganku……AM 2010